| VanillaSmile ( @ 2005-05-10 17:05:00 |
| Current mood: |
mencari sesuatu yg Taboo
Sebuah pencarian bernama Taboo!
Melody terbangun dengan tubuh telanjang. Gelap. Ruangan yang lembab bercampur wangi pengharum ruangan hasilkan aroma khas. Cahaya neon yang masuk dari celah pintu menjadi satu-satunya penerang yang tidak membantu. Dalam temaram sesosok laki-laki berbadan tegap memeluk pinggangnya yang ramping terbaring. Tidak ada suara. Tidak ada rasa. Tidak ada getar apa-apa. Sebuah kecupan dibibir ia terima dengan lapang dada. Dingin.
“aku senang kamu di sini” suara bisikan laki-laki itu memecah kesunyian.
Sepi. Melody tersenyum. Hampa. Ada yang hilang.
“kenapa diam?” Tanya laki-laki itu
Melody menatap laki-laki itu. Dingin.
Ia berusaha untuk merasakannya kembali. Namun tidak ada rasa apa-apa. Tidak ada getar yang ia cari. Tidak ada hangat yang ingin ia hampiri. Yang ada hanya sunyi. Yang ada hanya kata hati yang memaki. Menyerukan kebodohan yang ia lakukan lagi untuk kesekian kali. Melody mentegarkan diri. Berusaha menyatukan kepingan dirinya yang berserakan di kamar itu. Sebuah kepedihan menghampiri dengan pasti. Hasilkan keinginan untuk melarikan diri seperti biasa.
Melody mengenakan kembali pakaiannya perlahan. Laki-laki itu menatapnya dalam gelap penuh tanda tanya. Udara melata menyekap sepasang manusia tersebut.
“aku sedang mencari” ujar Melody tanpa bermaksud menjawab pertanyaan laki-laki itu.
Laki-laki itu duduk di pinggir tempat tidur sambil memandangi punggung Melody yang tengah mengenakan celana jeansnya kembali.
“… dan bukan ini yang aku cari” lanjutnya seraya menatap laki-laki itu. Dingin.
Ia sudah berusaha untuk merasakannya kembali. Namun tidak ada rasa apa-apa. Hanya dingin disertai perasaan bersalah yang kini melanda. Melody menahan airmata yang sudah merayap mengaburkan kornea matanya. Ia membalikkan badan, beranjak pergi, melarikan diri seperti biasa.
“tunggu!” seru laki-laki itu setengah berbisik
Melody tidak ingin menunggu. Ia membuka pintu, namun laki-laki itu menahannya. Mata mereka bertemu. Laki-laki itu mencari sesuatu di sana. Tidak ada apa-apa. Yang ada hanya kebekuan dan kegelapan. Melody mentegarkan diri. Laki-laki itu mengecup bibirnya dengan lembut. Melody membalikan badan dan keluar dari kamar tersebut tergesa.
Ia tidak menemukan apa yang ia cari di sana. Tidak pada situasinya. Tidak pada tempatnya. Tidak pada laki-laki itu. Melody memang mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan. Namun tidak menemukan apa yang ia cari. Pecah sudah tangis yang tertahan. Meledak sudah gumpalam kepedihan di dada. Menangispun tak ada gunanya. Ia sadar betul pencariannya tidak akan pernah membuahkan hasil kecuali penyesalan atas kebodohan yang berulang kali terjadi.
“apa yang aku cari?” hatinya berbisik
Melody terhenti pada sebuah persimpangan. Dingin. Gelap. Beku. Berlalu. Tidak ada pilihan. Tidak ada rasa yang lain. Kecuali ia temukan apa yang ia cari. Dan waktupun berlari meninggalkannya dalam keterpurukan, dalam kelelahan dan dalam kebenciannya pada dirinya sendiri. Melody memilih BEKU dan melanjutkan pencariannya, sekali lagi. (FIN)